Cerita porno dewasa bispak SMA hitam manis

Cerita porno dewasa bispak SMA hitam manisby adminon.Cerita porno dewasa bispak SMA hitam manisCerita porno dewasa bispak SMA hitam manis – Waktu itu sepulang kuliah, seperti biasa aku menjemput Tika dan kebetulan, hari itu jadwal kuliah kami sama2 selesai jam 1 sekalian aku mentraktir Tika makan di salah satu tempat makan. Tak hanya Tika yang aku ajak, aku juga mengajak beberapa temanku. Saat sampai di kampus Tika, seperti biasa […]

Cerita porno dewasa bispak SMA hitam manis – Waktu itu sepulang kuliah, seperti biasa aku menjemput Tika dan kebetulan, hari itu jadwal kuliah kami sama2 selesai jam 1 sekalian aku mentraktir Tika makan di salah satu tempat makan. Tak hanya Tika yang aku ajak, aku juga mengajak beberapa temanku. Saat sampai di kampus Tika, seperti biasa aku segera mengirim sms ke Tika mengabari kalau aku sudah sampai di kampusnya. Tika pun datang dan masuk ke dalam mobilku.
“Aduh, mukanya cemberut amat?” kataku kepada Tika.
Tak ada jawaban sama sekali dari Tika, yah, karena hari ini dia benar2 marah besar terhadapku. 2 hari kemarin tanpa sengaja Tika melihatku sedang jalan berdua dengan cewek lain yang bernama Vivi. Sebenarnya aku dan Vivi sudah berteman sejak lama, Walaupun Tika tahu tentang itu tapi terkadang ia cemburu.

model janda hotel

model janda hotel

“Masih diem ni? ada yang ketinggalan?” godaku pada Tika.
“Udah-udah cabut, biar cepet pulangnya, gak betah lama-lama di sini,…Cewekny yang kemarin gak diajakin?” Sindir Tika terhadapku.
“Hadeh, iya yang marah..” jawabku.
Agar tidak lebih runyam lagi aku segara tancap gas ke tempat makan yang dimana teman-temanku sudah menunggu. Sampailah aku di tempat makan itu. Siang itu kami makan ramai-ramai, banyak sekali ucapan selamat ultah kepadaku dari teman-temanku. Bahkan temanku yang bernama Andy dan pacarnya, Nia, membawakan blackforest untukku. Yah, sekalian Black Forest itu kita makan ramai-ramai.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kami pun pulang mengingat besok masih ada kuliah dan beberapa dari temanku punya tugas besar untuk besok. Masih tersisa sebagian Black Forest yang wujudnya sudah tidak karuan. Tampak Tika yang sedaritadi diam mengemasi Black Forest tersebut.
“Udah, tinggal aja buat pegawainya.” ujarku kepada Tika
“Udah babak belur gini, kasih ni aja yang bagusn buat pegawainya.” Jawab Tika
“Ya udah, aku pasrahin ke kamu dah, gak ngerti cowok masalah gini tu… hehehe.” aku mencoba untuk menggoda Tika yang sedari tadi diam dan benar-benar masih menyimpan amarah terhadapku.
Lalu aku dan Tika pun pulang. Tika membawa beberapa potong Black Forest yang sudah tak karuan wujudnya pulang.

Di dalam mobil pun keadaan kembali sepi, tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Tika. Keadaan benar-benar hening. Kalaupun aku mencoba memulai percakapan Tika tak bergeming sama sekali. Hingga pada akhirnya menjelang beberapa meter sampai di rumahnya..
“Stop! Stop!” perintah Tika.
“Kenapa? Rumahmu kan masih di depan sana..” ujarku terheran-heran.
“Aku bilang stop yah stop! paham gak sih kamu tu?” Kali ini Tika berkata dengan nada yang agak tinggi, tanda bahwa dia masih marah atau bahkan benar-benar marah terhadapku.
“kamu sayang gak sih sama aku? gila ya.. kok bisa-bisanya kamu jalan berdua sama cewek lain padahal..bla..bla..bla.” lanjut Tika dan aku coba mendengarkan dengan seksama. Aku mencoba untuk membiarkannya meluapkan seluruh emosinya. Selebihnya tak ada satupun kata-kata Tika yang kudengarkan.
“Aku bener-bener sayang sama kamu Tyo.” kali ini Tika menangis dan memalingkan muka dariku.
“Yank? kok nangis? aku bener2 sayang sama kamu juga. Kan udah aku bilang aku sama Vivi cuma temen biasa. Gak lebih.. lagian kamu juga udah pernah aku kenalin.. Yank?” Ujarku menenangkan Tika.
“TAA… DAA.. Met ultah sayang!! hehe.. Idih, Buayanya ternyata gampang banget dikerjainnya ya?.. Udah aku maafin kok” Ujar Tika yang cukup puas karena berhasil mengerjainku.
“Tapi awas kalo gitu lagi, setidaknya bilang kalo mau pergi ma Vivi, toh aku sama Vivi juga sering kontak-kontakn sejak kenal.” Lanjut Tika yang kali ini dengan menjewer kupingku.
“Aduuh.. Iya deh.. Y udah kita balik”. jawabku.
“Lo? kan aku udah bilang Stop ya artinya Stop.” Kali ini aku benar-benar terheran-heran dengan perintahnya. Sepertinya melihat aku yang terdiam dan melongo, Tika langsung mencium bibirku dan setelah itu berkata “Happy B’day yank..” bisik Tika di telinga kiriku.Benar-benar hal yang tak terduga. Mengingat kmu baru 2,5 bulan berpacaran dan belum pernah melakukan hal ‘aneh’ sekalipun.Tika sebenarnya termasuk cewek yang pendiam. Dia bukan tipe cewek yang suka ke sana kemari. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah dengan menonton DVD film-film kesukaanya. Walaupun begitu, Namun dia merupakan cewek yang gampang untuk bergaul. Pergaulannya pun cukup terbatas, dan tidak pernah melakukan yang namanya dugem dan sebangsanya. Dia tidak minum dan merokok, bahkan dia membenci cowok yang seperti itu. Alasan dia jauh tertarik kepadaku karena aku tidak melakukan kedua-duanya.
Tak ada kata yang terucap lagi dimobilku. Kali ini dengan suasana yang beda. Dia hanya memandangiku dengan sayu sambil mengusap-usap pipiku. Tika sangat cantik sekali malam ini. Dia memiliki tinggi 160 cm, dengan ukuran dada 34B. Dia memang tidak seputih cewek-cewek lain, warna kulitnya sedikit hitam manis, Wajahnya mirip dengan Jordana Brewster aktris pemeran Mia dalam serial Fast n Furious apalagi bagian bibir dan tatapan matanya, Serta dia memiliki body bak gitar spanyol. Pernah ada beberapa agency yg menawarinya tapi dia tidak PD dengan tinggi, dan warna kulitnya yang dia bilang item dekil tapi temannya bahkan akupun bilang termasuk kategori eksotis. Benar-benar cantik malam itu Tika, walaupun mengenakan baju standart kuliah dengan hem lengan panjang putih yang sedikit di tekuk pada bagian tangannnya, celana jeans ketat sehingga mencetak size pantatnya yg padat dan berisi, serta sepatu putihnya, entah bagaimana dia tetap terlihat modis.
“Aku punya hadiah buat kamu.. Bntar..” ujar Tika sambil mengambil sesuatu di jok belakang yang ternyata Black Forest sisa tadi.
“Pegangin bentar deh yank” Ujar Tika sambil memberikan Black Forest itu terhadapku lalu ia memposisikan duduknya menghadapku.
Dan tiba-tiba dia meletakkan kedua tanganya di hem-nya. Seperti hendak melakukan sesuatu. Benar saja dia lalu membuka satu persatu kancing bajunya hingga kancing paling akhir lalu ia melepaskan hem tersebut dari badannya dan melemparnya ke jok mobil belakang. Kali ini posisi Tika hanya mengenakan Bra putih dengan aksen renda-renda dan celana jeansnya. Terlihat jelas belahan dadanya yang padat dan berisi. Dalam hati aku membayangkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Lalu Tika menaruh tangannya ke bagian belakang Branya yg tanpa tali pada pundaknya. Aku mendengar bunyi “ctik”, lalu tatapan Tika berubah menggoda terhadapku, dan “uuuppss” ujar Tika sambil menjatuhkan Branya ke bawah. Kali ini benar-benar terlihat payudaranya yang menantang sempurna dengan pentilnya yg kecoklatan dan lingkaran putingny yang sempurna. Ingin rasanya tangan ini segera memegangnya layaknya Singa yang menerkam mangsanya tapi apa daya tangan ini memegang Black Forest.Dengan posisi yang sudah tidak mengenakan apa-apalagi bagian atasnya lalu Tika mengambil sisa-sia Black Forest yang kupegang dan mengoleskannya di sekujur tubuhnya dengan menyibakkan rambutnya yg hitam panjang sepundak terlebih dahulu. Benar-benar Tika seperti manusia Black Forest saat ini. Apalagi dia mengumpulkan semua whip creamnya di bagian putingny. Sehingga putingnya tidak terlihat. Tiba-tiba Tika meloncat dari tempatnya dan pindah ke pangkuanku dengan posisi bagian punggunya berada di jendela sopir.”Ayo yank, di makan donk masa di diemin?” Ujar Tika menggodaku sambil dia menempel-tempelkan payudara kirinya ke mukaku.
“wow.. mimpi apa semalam? berantem ending2nya bisa gini? wo..” batinku dalam hati penuh girang menyambut perlakuan Tika ini.
Tanpa basa basi lalu aku memakan semuat Black Forest yang ada di badannya. Apalagi bagian putingnya dan payudaranya yang sambil aku remas-remas, aku juga menyedot-nyedot putingnya yang tertutup whip cream.
“ahh..ngghh..nggghhh” desahnya lirih. “Yank.. kok di susu ku terus sih? yang lain mubazir lo entar” ujar Tika sambil menegadahkan mukaku dan melumat bibirku. Sesekali ia memasukkan lidahnya yang mungil dan mengambil Black Forest yang berada di mulutku dengan lidahnya dan memakannya.
“enak juga ya ternyata.. hi..hi..hi” canda Tika.
Aku pastikan tak ada satupun Black Forest yang terlewatkan. Mulai dari perutnya yang rata, bagian dada, serta lehernya. Posisi yang sempurna melihat Tika saat ini, hanya di terangi lampu mercury kompleks perumahannya yang masuk kedalam mobilku. Entahlah, kita lumayan lama berhenti, bagaimana jika nanti ada satpam yang curiga, bisa berabe.
“yank pindah tempat yuk, cari yang lebih gelap aja, kita keluar dari perumahanku.” Ujar Tika dengan mendesah-desah disertai dengan emutan pada kupingku.
“Ok” jawabku.
Karena sedari tadi mesin sudah menyala lalu aku tancap gas keluar dari perumahan.Tika kembali ke tempatnya, dan aku fokus pada jalan. Tiba-tiba Tika mengelus-elus si junior dari balik celana jeansku.
“Ini apa ya yang nonjol-nonjol gini?” tanya Tika kepadaku dengan tersenyum.Si Junior sedari tadi sudah berontak pingin keluar tapi apa daya, Sudah tertutup celana masih harus di tindas dengan pantatnya yang padat. Seperti ikut merasakan ketika masih belum merdeka dan ditindas oleh kompeni.
“Kasihan ini di dalem terus..” Ujar Tika di barengi dengan suara “ctik, zrrt”
“Keluar juga deh akhirny si junior..huff” batinku lega dalam hati
“Wuih gedenya..” kata Tika sambil mengocok-ngocoknya.
Karena saat ini aku memasuki jalan raya yang lumayan ramai, posisi Tika agak membungkuk, agar tidak terlihat bahwa gadis manis yang duduk di sebelahku ini sudah bugil bagian atasnya.
“hih.. kok tambah gede sih? nakal ini.. mana ini ujungnya keluar basah-basah gini” ujar Tika dengan tatapan penuh birahi melihatku yang konsentrasi ke jalan.
Entahlah apa yang terjadi di bawah sana. Aku tak dapat melihat, Hanya dapat merasakan. Karena hal ini kita lakukan saat mobil sedang berjalan dan di tengah keramaian. Tiba-tiba saja aku merasakan jilatan-jilatan hangat pada batang junior. Mulai dari pangkal, naik ke batang, lalu di akhiri dengan jilatan-jilatan di ujung si junior. bahkan lidahnya seperti hendak mengorek-ngorek lebih dalam lubang si junior yang mampu membuatku merinding seketika. Lalu pelan-pelan aku merasakan sesuatu yang lembab-lembab basah menyelimuti si junior berlahan-lahan hingga terselimuti semua. Saat aku melirik ke bawah aku sadar bahwa si Junior kini sudah berada di mulutnya.
“Enghm..enghmm…emm..” Gumamnya sambil menaik turunkan kepalanya. Tak jarang pula Tika menyedot-nyedot si Junior yang lagi-lagi bikin merinding ke enakan. Lalu gerakannya mulai cepat dan hampirlah aku mengeluarkan spermaku karena sudah tidak tahan akan oral seksnya.
“Aku mau keluar…aaahhh!!” teriakku sambil aku menepikan mobil dan berhenti.
Tiba-tiba dia menarik kepalanya dan memasukkan kembali si Junior ke dalam celanaku.
“Lo? knp ini? aku udah mau keluar nanggung, enak banget kamu yank” ujarku
“ogah.. kamu berhenti aku juga berhenti, kalo kamu jalan aku terusn” jawab Tika.
Yah hal yang sudah sampai puncaknnya ternyata masih harus disiksa lagi. Aku hanya bisa mngumpulkan segenap tenaga untuk menahannya. Dan akhirny akupun melanjutkan perjalanan. Tak ada satupun kesempatan untuk mengeluarkan isi si Junior. Setiap mau keluar dia pasti menutup lobang si Junior dengan tangannya. Aku benar-benar harus konsentrasi selain konsen ke pedal kopling, rem, gas dan jalan harus ketambahan konsentrasi ke hal yang lain. Satu-Satunya juru selamat adalah lampu merah, tapi itupun tak menolong bnyak karena sudah malam jeda waktu merah pun sebentar.

Tiba-tiba Tika membenarkan posisi duduknya dan melepaskan seluruh celananya dan segera meloncat ke tempatku.
“Aku udah gak kuat lagi, Tyo.. udah gak kuat lagi..” ceracau Tika.Dan meloncatlah Tika ketempatku. Dia memposisikan duduknya hadap-hadapan denganku dengan posisi dia menghadap jendela belakang. Dan karena posisi itulah pantatnya yang sekal sempat mengenai setirku yang mengakibatkan mobilku bergerak tajam ke kanan dan kiri.
“buset, untung mobil tadi udah nyalip duluan, bisa-bisa tabrakan ni” Batinku.
Dan lagi-lagi aku tak bisa melihat apa-apa, sekarang jalan pun termasuk karena pandanganku tertutup oleh gunung kembarnya.
“Udah kamu konsentrasi ke jalan aja, yang ini biar aku” ujar Tika.
Benda yang jauh lebih hangat, basah, lembab kali ini bergesek-gesekkan dengan juniorku. Gerakan gesekan memutar-mutar terasa sekali di Juniorku.
“nggh… ahhh,,, mmaass,,,nnngghhh…ukkk..ahh” Desah Tika yang mulai berlahan-lahan menaik turunkan vaginanya untuk memasukkan si junior ke rumah barunya. “aaaakkkkkkhhhhhh…” desah Tika panjang di iringi dengan pelukkan erat kepadaku. Semakin hilang saja konsentrasiku akan jalan. Benar-benar hangat di dalam sana, serta adanya pijatan-pijatan kecil serta goyangan-goyangan memutar, hisapan-hisapan serta benturan terhadap pangkal vaginannya yang sepertinya membuat si junior jauh lebih tegang. Berlahan-lahan Tika menaik turunkan pantatnya lalu dia mengusap-usap sesuatu dari Vaginanya dan.. VOILA! ada bercak darah di jari telunjuk dan tengah tangan kanannya. “happy b’day sayang, ni kado dari aku” Ucap Tika tersenyum kepadaku lalu dia mencium bibirku dan mulai menaik turunkan pantatnya lagi dengan intensitas yang lebih cepat sebelumnya.
“ahh..ahhh…oughhh..yes… yes…akh…” ceracaunya. “Sayang aku nyampe, aku keluar ni..aaakkkhhh” teriak Tika puas.
“ceerrr” cairan hangat membasahi batang juniorku.
“Aku juga gak kuat nahan ni, mw keluar” kataku.
“Bentar, yank.. jangan di dalem, kayakny lagi subur ini” jawab Tika yang kali ini agak kebingungan
Lalu Tika kembali ke posisi tempat duduknya dan kali ini dia memasukkan kembali si junior ke mulutnya.
“aku keluar sayang!!!”
“crooot…crooottt” Spermaku akhirnya keluar juga.
Entah berapa banyak sperma yang aku keluarkan karena menahannya sedari tadi. Dan sepertinya si Tika juga kewalahan menelan spermaku, tak jarang beberapa kali ada yang mengintip dari balik bibirnya yang imut itu. Tika juga menyedot-nyedot si junior demi memastikan dia sudah menelan hingga tetes terakhir. Lalu Tika rebahan di tempat duduknya tanpa ada busana yang melekat, bahkan ia seolah tak peduli sorot lampu kendaraan dari arah berlawanan. Akupun juga memberhentikan mobilku di pinggir jalan untuk istirahat sejenak mengembalikan kembali konsentrasiku yang sukses hancur berantakan gara-gara tadi
“yuk pulang sayang” Ujar Tika kepadaku.
“La kan belum ktemu tempat sepinya?” jawabku.
“Idih, maunya..” jawab Tika sambil menjiwitku.
Karena aku juga tidak enak memulangkan Tika hingga larut, apalagi orang tuanya sangat baik terhadapku sehingga lebih memunculkan perasaan tidak enak. Aku lalu mengenakan kembali celanaku dan Tika tetap membiarkan dirinya dalam keadaan bugil. Kami pun kembali ke rumah Tika.

Sampailah kami di depan rumahnya. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 00.30. Benar-benar membuat perasaanku tidak enak.
“Yank, mulai detik ini, badanku semuanya punyamu. Mau kamu apain juga terserah kamu. Kalo kamu pingin bilang aja, pasti kusanggupin kok. Cuma jangan waktu aku period aja, and.. Jangan macem-macem ma cewek lain kalo enggak kamu gak akan aku jatah lagi alias bakal aku putusin” Ucap Tika.
“Awas kalo sampe lupa” tambah Tika
“Iya deh.. Maaf juga ya kalo udah bikin ribut” jawabku.
Lalu Tika mengambil Tissue dan membersihkan Vaginannya yang masih terlihat bercak-bercak darah.
“Y udah, mumpung aku masih belum pake baju ada yang mau di kerjain gak nih?” tanya Tika padaku.
Entah mengapa melihat kondisi Tika yang tidak berpakaian dengan payudaranya yang menantang, berisi dan padat, serta tidak adanya bulu kemaluan di vaginanny membuat birahiku bangkit lagi. Apalagi sepertiny Tika juga masih ingin ronde tambahan melihat dari vaginanny yang ternyata berwarna pink mengeluarkan cairan-cairan vaginanya. Tapi karena waktu, aku hanya memilih untuk meremas-remas susunya dan menghisap-hisap pentilnya serta mengocok-ngocok vaginanya dengan tanganku hingga dia menggelinjang tak karuan dan sampai pada klimaksnya.
“Ih.. nakal, udah di depan rumah masih aja di bikin basah lagi” gerutunya sambil mengenakan langsung celana jeans dan hemnya. Bra-nya tidak dia kenakan lagi dan CDny yg terkena bercak darah sama-sama dia masukkan kedalam tas kuliahnya.
“hehe.. habis enak sih..” jawabku. ” O y, kamu Tik, jauh banget dari cewek-cewek yang kayak gini, padahal kamu pendiem banget mana kelihatan banget baiknnya, kok mau nglakuin ini sama aku?” Tanyaku penasaran
“Gak tahu, reflek aja.. Itung-itung aku pingin ngasih kado yang beda dari yang lain, daripada nanti ngasih kado yg di kembarin si Vivi.. Lagian menurut Informanku dulu, kamu tuh tipe cowok yang kalo ada cewek liat pasti pingin di tidurin” candanya.
“Jiah.. James Bond kali.. udah-udah trun yuk tambah gak enak ni” kataku.
“hehe.. iya-iya.. Gpp juga kok, aku udah bilang kmu ultah, jadi aku udah bilang pulang telat. Y udah yuk, aku panggilin papa dlu” ujar Tika.
Lalu Tika mencium pipiku dan kita turun untuk berpamitan. Wah sebenarnya untuk ukuran cowok aku jauh dari kesan cowok keren, malah cenderung cuek dan berantakan. Tapi entahlah, mengapa cewek seperti Tika mau melakukan hal tersebut dan bahkan, ini hanyalah pintu utama dari surga duniawi si Tika. Bahkan tanpa kusadari info dari informan Tika itu benar adanya. Benar pengalaman yang menyenangkan.

Author: 

Related Posts