Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 22

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 22by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 22Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 22 Chapter 15: TRANSITION ————————————— Uuufffhhhhhh… Pekerjaan yang mudah. Terlalu mudah, tidak ada tantangannya sama sekali. Kubersihkan ranjang dan sekeliling tempat ini dari bekas-bekasku. Sekarang saatnya membersihkan diri. Ufftttt.. Pantatku terasa sedikit perih. Dasar, tidak bilang-bilang kalau ngemasukin. Belum siap juga. Tapi lebih mudah […]

tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o5_500 tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o6_500 tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o7_500Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 22

Chapter 15: TRANSITION
—————————————

Uuufffhhhhhh…
Pekerjaan yang mudah.
Terlalu mudah, tidak ada tantangannya sama sekali.
Kubersihkan ranjang dan sekeliling tempat ini dari bekas-bekasku. Sekarang saatnya membersihkan diri.
Ufftttt..
Pantatku terasa sedikit perih.
Dasar, tidak bilang-bilang kalau ngemasukin. Belum siap juga.
Tapi lebih mudah kalau seperti ini, kalau sudah nafsu, rasa viagrapun tak akan bisa dibedakannya dari yang lain.
Selesai membersihkan diri, aku memakai seragam yang disediakan.
Hotel yang payah, keamanannya juga parah.
Kumelangkah kepintu, sebelum keluar kupandangi wajahnya yang sedikit mengernyit menahan sakit. Wajah yang sudah tak berisi kehidupan lagi.

—————————————
Lidya POV.

Hari yang melelahkan.

Dari pagi sampai sore ini aku disibukkan dengan pertanyaan dari anggota staff yang lain mengenai kematian Ade. Sebagian menyatakan belasungkawanya. Sebagian lagi bertanya mengenai kelanjutan dari proyeknya. Yang membuatku kesal, seharian aku berusaha menghubungi si-mata-keranjang, namun hanya tersambung dengan mailbox saja.

Dengan kesal aku menuju kemess.

Mungkin sebaiknya aku beristirhat dulu.

Perlahan kuregangkan badanku yang terasa sedikit penat. Mataku tak sengaja terbentur dengan lemari yang berisi buku-buku si-mata-keranjang.
Kuteringat hal yang kubaca terakhir kali. Dengan penasaran kuambil lagi buku tipis itu dan mulai membacanya.
Kalau diawal berisi puisi dan lirik lagu, halaman berikutnya berisi semacam pesan.

Pesan?

Pepatah?

Entahlah.

Kubaca lagi hal yang tertulis disitu :

Jika kita berbuat baik kepada orang lain dan
orang lain pun berbuat baik kepada kita,
itu adalah hal yang biasa.

Jika kita berbuat baik kepada orang lain tapi
orang lain membalas tidak baik kepada kita,
itu adalah takdir.

Jika kita berbuat tidak baik kepada orang lain tapi
orang lain masih berbuat baik kepada kita,
itu adalah anugerah.

Jika kita berbuat tidak baik kepada orang lain dan
orang lain pun berbuat tidak baik kepada kita,
itu adalah karma.

Jika orang lain berbuat baik kepada kita dan
kita pun berbuat baik kepada orang lain,
itu adalah balas budi.

Jika orang lain berbuak baik kepada kita tapi
kita membalas tidak baik kepada orang lain,
itu adalah tidak tahu diri.

Jika orang lain berbuak tidak baik kepada kita dan
kita membalas tidak baik kepada orang lain,
itu adalah dendam.

Jika orang lain berbuak tidak baik kepada kita dan
kita tetap berbuat baik kepada orang lain,
itu adalah kasih sayang.

Sedikit tertegun ketika kubaca kata-kata yang tertulis dibuku ini. Maknanya dalam.

Sangat dalam.

Apakah yang dipikirkan si-mata-keranjang ketika menulis ini?

Kulihat halaman berikutnya, dan tulisan tangan yang berbeda terlihat dihalaman ini.

An eye for an eye will only make the whole world blind.
? Mahatma Gandhi

Hmmm…

Tulisan tangan siapakah ini?

Rapi, kuat dan jelas. Kemungkinan seorang wanita?

Pacarnyakah?

Sebuah desiran aneh kurasakan.

Ahh.. bodow amat! gumamku.

Aku berdiri dan meletakkan buku ini di meja ruang tamu. Dengan langkah yang pelan aku menuju ke kamar tidur dan berbaring dikasur yang empuk.

Ehhhmmmm…

Kurasakan nyamannya berbaring di ranjang setelah seharian duduk.

Kalau terus seperti ini, bisa-bisa pantatku jadi tipis, gumamku sambil bangun. Kupandangi tubuhku yang terbalut blouse dan rok dicermin yang berada disudut ruangan.

Mending mandi dulu, biar segeran ah…, gumamku sambil menuju ke kamar mandi.

Selesai mandi, hanya dengan mengenakan jubah mandi warna merah marun aku berjalan keruang tidur. Sambil mengeringkan rambut yang sedikit basah. Kupandangi wajahku dicermin.

Hmmm…, sedikit lebih segar sekarang, gumamku sambil memutar-mutar tubuhku. Jubah mandi yang kukenakan sedikit pendek, sehingga pahaku terpangpang dengan jelas.

Ting..ting..ting

Kudengar suara handphoneku dari tas yang kutaruh diatas meja ruang tamu.

Kuambil dan kubaca sebuah pesan yang masuk.

Dari : Lisa
Mbak, aku telat dikit datengnya, diajak jalan sebentar sama Mas Frans, jadi nitip bli makan mbak?

Hmm. .. semakin dekat saja mereka. Mau tak mau timbul perasaan iri dalam hatiku. Kubalas sms Lisa.

Kepada : Lisa
Iya Lis, gak usah Lis, mbak makan buahnya aja, lagian mau diet juga nih J
Jangan sampai pagi ya…

Sambil tersenyum aku menekan tombol kirim.

Well.

Sendirian lagi.

Apa yang bisa kulakukan sekarang?

Mungkin berbaring sejenak ide yang bagus. Pikirku.

Aduh! jeritku ketika tak sengaja aku berbaring didekat bantal.

Dengan penasaran aku menarik benda yang mengganjal disana.

Sebuah vibrator?

Atau benda apakah ini?

Kecil.

Sepertinya pas dijari.

Salah satu mainan Lisa kah?

Dengan penasaran kupasang dijari tengah tangan kanan, kutekan tombol diujungnya dan benda ini berdengung dengan pelan.

Bisa kurasakan getarannya dijariku.

Dan tiba-tiba aku mengerti apa yang harus kulakukan.

Aku berjalan kearah ruang tamu, kuhidupkan televisi.

Dengan pelan aku baringkan pantatku di karpet yang empuk. Kusibak celana dalam putih miniku kesamping.

Terlihat kemaluanku yang ditumbuhi rambut-rambut pendek.

Harus cukur lagi nih… pikirku sambil mulai meraba klitorisku dengan vibrator jari ini.

Emhhhhhhh….., desahan pertama keluar dari mulutku ketika getaran ringan dari vibrator ini mulai menyentuh saraf sensitif dibagian atas vaginaku.

Nguuunngggg…, bunyi nguung pelan hampir tak terdengar dari vibrator ini tersamarkan oleh suara televisi, yang padahal sangat pelan.

Pelan tapi pasti, daging kecil yang sensitif dibagian atas vaginaku semakin membesar. Cairan kenikmatan mulai merembes pelan divaginaku.

Kuusapkan cairan vaginaku di vibrator mini ini dan dengan pelan kuusap daging kecil yang sekarang menyembul malu-malu.

Akkhhh…..ahhhh, desahanku bertambah ketika vibrator yang basah oleh cairan kenikmatanku bergesekan dengan klitoris yang sudah mengeras.

Kurang.

Aku merasa kurang.

Tangan kiriku yang daritadi diam saja, perlahan mengelus payudaraku dari luar jubah mandi yang aku pakai. Perlahan, melingkar diputingku yang mulai mengeras. Puting yang sekarang samar terlihat mengacung dari balik jubah.

Ssstttttt……uuhmhmmm…, tak bisa kutahan bibirku mulai mendesah ketika putingku yang mulai sensitif teraba dari luar. Ketika rasanya belum terasa cukup, kumasukkan tangan kiri kedalam jubah mandi, langsung memijit pelan putingku yang tak terlindungi bra.

Ahhhhh…….stttt…, desahanku semakin keras ketika putingku yang telah mengeras kuplintir dengan pelan, sedangkan dibawah. Vaginaku mulai banyak mengeluarkan cairan kenikmatan yang menetes ke paha putih mulusku.

Agghhhhhh…ahhhhh…hmmm…hmmmm., bibirku kugigit pelan agar suara desahanku tidak terdengar sampai keluar. Rasa gatal yang familiar itu akan segera datang.

Sebentar lagi…

Sedikit lagi…

Tok.tok.tok.

Suara ketukan dipintu mengagetkanku.

Tunggu…

Sedikit lagi…

Tok.tok.tok.

Suara ketukan sekarang semakin keras.

Uuugggggggggghhhhhhhhhhhh!!!

Kubangkit dengan terpaksa, kurapikan jubahku yang rasanya berantakan.

Bisa kurasakan wajahku masih terasa panas. Ingin rasanya kuabaikan saja ketukan dipintu itu.

Klik.

Kuputar kunci pintu dan bersiap mengomel ketika raut wajah yang menemaniku selama lima tahun belakangan ini terlihat memandangku sambil tersenyum.

Author: 

Related Posts