Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 19

Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 19by adminon.Cerita Sex LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 19LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 19 Closing -rudi- Namaku Rudi, lengkapnya Rudi Pratama Putra. Sudah dua tahun aku menjalani kehidupan rumah tangga bersama istriku, Annisa Kirana Larasati. ———————— “Terus kamu beneran bawa si Rudolf mandi waktu itu, yank?” tanyaku sambil merangkulnya erat. Kami sedang bernostalgia dengan masa lalu, waktu masih […]

multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-10 multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-11 multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-0LDR? Mana Tahan~ ( Nisa Dan Rudi ) – Part 19

Closing
-rudi-

Namaku Rudi, lengkapnya Rudi Pratama Putra. Sudah dua tahun aku menjalani kehidupan rumah tangga bersama istriku, Annisa Kirana Larasati.

————————

“Terus kamu beneran bawa si Rudolf mandi waktu itu, yank?” tanyaku sambil merangkulnya erat.

Kami sedang bernostalgia dengan masa lalu, waktu masih pengantin baru. Aku mendengar cerita Nisa saat kami pertama kali terpisah sambil tanganku membelai payudara Nisa dari luar piyamanya.

“Engga kok, nanti basah, kan kasihan dia, iya kan Rudolf sayang?” Nisa menjawabku sambil memeluk Rudolf dan tersenyum kepadanya. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istriku. Walau sudah 2 tahun menikah, tingkah lucunya tidak berubah sama sekali.

“Terus kamu inget ga? Waktu jemput aku di bandara, kamu jutek banget sama bos aku, hehehe,” lanjutku kemudian.

“Iyaa, abisnya aku kesel banget, gara-gara dia, aku jadi sendirian di rumah. Ga enak tahu tidur sendirian, ga ada yang meluk aku,” Nisa menyandarkan kepalanya di dadaku sambil cemberut.

“Hahaha, ga ada yang meluk, apa ga ada yang mesumin kamu?” tanyaku sambil meremas payudara Nisa.Nisa menggeliatkan badannya sambil tersenyum, merespon remasanku tersebut. Aku pun mengecup mesra bibir istriku ini. Tanganku pun mulai membuka satu per satu kancing baju Nisa.

“Kamu mau ngapain?” Nisa menahan tanganku.

“Mau bikin kamu seneng dong, yank,” aku menyingkirkan tangan Nisa dan kembali melanjutkan perkerjaanku.

Selesai membuka semua kancing piyama Nisa, aku menarik turun celana yang ia kenakan. Nisa mengangkat pinggulnya, memberi kemudahan kepadaku.Nisa tertawa melihatku terdiam menatapnya. Badan Nisa tidak berubah, masih tetap bagus seperti dulu. Payudaranya yang sedikit membesar terekspos jelas di hadapanku. Nisa memang tidak pernah mengenakan bra jika berada di rumah. Sementara vaginanya tertutup celana dalam berwarna merah menyala.

“Kamu lucu ih, masih kaya gitu aja liat badan aku?” tanya Nisa sambil tersenyum manis.

“Sampai tua pun, aku akan seperti ini sayang. Soalnya kamu akan selalu jadi malaikat aku,” jawabku sambil mendekatkan mukaku ke arahnya.

“Yeee, geje. ” balasnya sambil mengecup bibirku, “Rudi, aku jadi kepengen gara-gara kita inget-inget phone sex tadi,” bisiknya kemudian sambil membelai dadaku. Aku pun segera membuka semua pakaian yang melekat di tubuhku dengan penuh semangat.

“Dih, kamu ngapain telanjang?” tanya Nisa begitu aku selesai melepaskan celana dalamku.

“Tadi katanya pengen?”

“Yee, apa hubungan pengen sama telanjang.”

Aku menggaruk kepalaku, merasa dikerjai istriku ini. Nisa tertawa senang melihatku kebingungan. Ia pun merentangkan tangannya. Aku segera menyambutnya, memeluknya. Ia menurunkan kepalaku, mengarahkan ke payudaranya. Aku yang mengerti keinginan Nisa segera menghisap putingnya yang telah tegak mengacung.

“Hmmph, kok kaya keluar susu ya, yank?” aku bertanya disela hisapanku.

“Aw, kok dipukul?” Bukan jawaban yang kudapat, melainkan jitakan Nisa di kepalaku. Ia memandangku galak sambil mengerenyitkan mukanya, membuatku memasang muka polos sambil tertawa.

“Iya deh..ngga dulu, pelan pelan deeh..” jawabku melihat istriku yang melotot.

“Rudi, masukin dong, aku udah ga tahan nih,” kata Nisa sambil membelai pipiku.

“Sekarang kamu uda ga malu-malu lagi ya, yank, hehehe.”

“Iya dong, kan uda bukan pasangan baru lagi.”

“Tapi jepitan kamu rasanya kaya masih baru nikah loh,” bisikku pelan. Kulihat muka Nisa memerah mendengar perkataanku.

“Rudiiiii! Apaan sih! Udah ah ga jadi!” Nisa mendorong badanku sambil menggembungkan pipinya. Aku hanya bisa menahan tawa melihat tingkah istriku ini.

“Itu kan artinya aku tetap sayang ma kamu, Nisa,” aku menjawab sambil merangkak ke arahnya, menciumi pipi Nisa.

Nisa tak bereaksi atas cumbuanku, membuat aku semakin gencar mencumbui tubuhnya. Ciumanku pun turun ke leher, sedikit menghisap kulitnya, kemudian ke bahu dan kemudian pinggir payudaranya tanpa menghisap putingnya. Aku bisa merasakan tubuh Nisa menggelinjang saat ciumanku beranjak turun ke perutnya. Napasnya mulai terdengar lebih cepat, pertanda nafsu sudah kembali menguasainya.

“Sayang, aku buka celana kamu ya?” tanyaku sambil memegang ujung celana dalam Nisa.

Nisa hanya mengangkat pinggulnya sedikit tanpaa menjawabku, namun itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku segera menurunkan kain terkahir yang menutupi tubuh Nisa. Tanpa menunggu, aku segera menciumi pangkal paha Nisa, membuatnya terlonjak kaget dan memegang erat rambutku. Aku sengaja bermain-main sedikit di bagian paha Nisa tanpa menyentuh vaginanya. Aku ingin membuat Nisa semakin bernapsu.

“Hhmmph, yank. Aku ga tahan, jangan gitu ah,” Nisa mendesah tertahan.

“Jangan gitu apa?” tanyaku sambil menghembuskan napas di depan vagina Nisa, membuatnya bergerak gelisah.

“Masukin sih. Kamu mah jahat,” Nisa kembali menjitak lembut kepalaku. Aku hanya tersenyum mendengar Nisa berkata seperti itu. Akupun segera mengambil posisi, mengarahkan penisku untuk memasuki vagina Nisa.

“Siap ya, yank,” aku berkata dan dijawab dengan anggukan kecil Nisa yang melihatku sambil menggigit bibir bagian bawah. Aku menarik napas sejenak, bersiap mendorong penisku.

“Aku masukin, yank.”

“Oooeeeee! Ooooooeeeee!” Sebuah suara tangisan terdengar nyaring dari kamar sebelah, membuat kami berdua saling bertatapan kaget.

“Yank,” Nisa berkata terbata-bata dengan nada pelan.

“I-iya,” balasku kemudian tak kalah pelan.

“Bagian kamu sekarang.”

“Apanya?”

“Nidurin Rediit!”

“Iya ya? Tapi kita kan lagi mau bikin adik buat dia.”

“Rudiii!”

“Iya sayang. Duh, si reditya ini ga bisa liat mama papanya senang deh!” Aku pun beranjak, meninggalkan kegiatan ranjang kami karena interupsi sang bayi. Haah. Biarlah. Masih ada waktu.

———————–

Begitulah kisahku. Sebenarnya aku ingin lanjut, masih banyak yang ingin kuceritakan. Tapi apa daya, penulis cerita ini sudah bosan denganku. Mereka bahkan butuh berminggu-minggu untuk menyelesaikan part terakhir ini (Heh Rudi, siapa suruh ngomongin kita dibelakang!”)

Tuh kan..si apel marah.. Yah..sebenarnya aku ingin mencerit. .. (Rudiiiiiii…!)

Ehem..oke oke.. Sampai jumpa. Mungkin suatu saat aku akan menceritakan kisah lainnya. Tapi entahlah, aku tak yakin. Sampai jumpa readers. Babaaii. TAMAT

Author: 

Related Posts